Kamis, 23 Juni 2016

Mengatasi Trauma

Peristiwa yang terjadi selalu menyisakan sepenggal kenangan.Manis pahit kehidupan merupakan bagian kecil dari setiap episode kehidupan yang harus dilalui.Apakah kenangan manis maupun menyedihkan harus kita terima?? Jawabnya tentu saja,kita tidak boleh egois.Kenapa banyak orang yang berusaha melupakan kesedihan,kenangan pahit dalam hidupnya?Apakah itu jalan keluar yang terbaik dan benar??Let's kita cermati dulu. Sebagian besar kesedihan,kehilangan,penghianatan menimbulkan luka.Hal ini yang memicu munculnya trauma,lebih parah lagi menyebabkan orang stress bahkan gila. Semudah inikah orang bisa gila padahal obatnya saja belum ditemukan.Maukah anda menghabiskan sisa hidup dengan menjadi gila?? Sebagai manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibekali akal marilah kita maknai peristiwa dalam hidup ini. Kehilangan seseorang yang kita sayang,haruskah kita trauma untuk menjalani hidup.Kesedihan atas penghiatan haruskah kita membalas dan menutup diri.Semua itu harus dipandang dari sisi lain.Pada akhirnya semua akan kembali pada penciptanya dengan jalan apapun,kematian atau perpisahan disaat masih hidup.Begitu juga dengan penghiatan jika kita membalasnya apa bedanya kita dengan orang tersebut terlebih lagi kita akan menyakiti orang lain. Sebagai manusia yang beriman kita harus percaya setiap kesedihan akan ada kebahagiaan,setiap perpisahan akan ada perjumpaan lagi.Karena Tuhan sebaik-baiknya perencana bagi umatnya. Apakah benar kita harus melupakan masa lalu yang menyedihkan tentu saja ini tidak baik,karena hanya orang gila dan amnesia yang bisa lupa masa lalunya.Kita harus berjiwa besar menerima apapun yang terjafi dalam hidup kita.Percaya dengan rencana Tuhan dan memaafkan siapapun yang telah menyakiti kita.Kita memaafkan untuk berdamai dengan diri kita sendiri dan mencapai kedamaian jiwa. Kenapa kita harus membuang waktu kita untuk orang yang belum tentu peduli dengan kita.Masih banyak orang yang menerima dan membutuhkan kita. Jauhilah dari perasaan seolah-olah menjadi manusia paling menyedihkan,merasa paling sulit dan sakit. Itu hanya perasaan dan pemikiran kita yang memicu munculnya trauma. Berusahalah berpikir,bersikap dari sisi positifnya. Mudah-mudahan kita bisa melalui seluruh ujian dan cobaan dalam hidup.Kita harus sadar setiap ujian itu karena Tuhan sangat menyayangi umatnya.Membuat umatnya slalu mengingat-Nya dan semakin dekat dengan-Nya. Kita semua sangat beruntung masih bisa diberikan nikmat hidup,masih mampu bertahan hingga saat ini.Jangan sia-siakan hidup ini.Life is beautiful....

Minggu, 19 Juni 2016

Jiwa Pada Raga Yang Salah

Ketidaktepatan penempatan jiwa,yes maybe untuk melukiskan kondisi ini.Istilah trendnya LGBT,jangan lupa gaeess apapun itu mereka tetap makhluk Tuhan. Bukan berarti mendukung mereka,mari kita cermati dulu sebab dan akibatnya. Bersama kita cari solusi bukan hanya menjudge dan mengucilkan mereka. Banyak yang mengatakan LGBT merupakan penyakit sosial.That's right,tapi ada juga dari perspektif psikologis mereka juga dikategorikan mengalami gangguan kejiwaan. Meskipun dari norma agama dan pemerintah melarang bukan berarti menyelesaikan masalah kaum LGBT.Penulis melakukan penelitian mulai dari tahun 2010 sampai sekarang.Banyak sekali program dan diperlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat maupun pemerintah untuk menyelesaikannya. Hal mendasar yang perlu diketahui,mereka masuk dalam kaum LGBT karena beberapa faktor: 1. Pola asuh Pola asuh ini bermula dari lingkungan keluarga.Tentu saja keluarga merupakan tempat pendidikan bagi anak.Ketidaktepatan dalam membekali anak akan berdampak pada pembentukan karakter dan sikap seorang anak.Pengetahuan agama sangat diperlukan dalan membekali anak untuk berperilaku sesuai dengan norma agama,paham tentang kewajiban dan larangan. Selain itu pola dalam membelikan mainan,pemilihan warna,mainan dan tempat hiburan bagi anak juga harus diperhatikan. Pemberian mainan anak cowok ataupun baju anak cowok ke perempuan bisa membentuk karakter seolah-olah dia merasa sebagai cowok meskipun fisiknya adalah perempuan,begitu juga sebaliknya. 2. Lingkungan Baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat merupakan sumber pendidikan yang akan mempengaruhi perilaku anak-anak. Banyak yang hanya sekedar ingin coba-coba atau sampai taruhan dengan kawannya yang pada akhirnya terjerumus dan kesulitan untuk keluar dari LGBT. Pada kesempatan ini penulis belum bisa berbagi lebih banyak dikarenakan beberapa faktor.Namun sangat berharap kepada agan2 semuanya marilah kita tidak menjugde mereka baik dengan alasan humanity atau apapun.Mari kita dekati mereka,dengan kasih sayang yang tulus kita sharing dengan mereka bukan untuk memutuskan benar atau salah namun untuk masa depan mereka yang lebih baik.Kita beri wawasan dari sisi agama maupun dari sisi kesehatan.Save LGBT bukan berarti mendukung mereka,namun mari bersama kita selamatkan generasi penerus bangsa.Mereka merupakan komunitas terbatas dengan alasan apapun mereka harus bertahan hidup dengan dilema batin dan cercaan dari luar. Siapapun yang ingin sharing silahkan tinggalkan pesan. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi umatnya,tugas kita untuk saling menyayangi dan mengingatkan.